Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Jumat, 12 Februari 2016

Break heart



Air hujan yang turun didepan rumahku seperti mewakili perasaanku saat ini, sepi, sendu, tidak menghasilkan pelangi. Apa kabar kamu? Kita benar-benar sudah menjauh, bukan kita, maksutku memang kamu. Sejak awal tahun kamu memutuskan untuk pergi, rasa ini tidak menjadi benci. Mengkhawatirkanmu menjadi rutinitasku saat ini. Selalu ku cari tau kabarmu melalui temanmu, walaupun tidak bisa menjadi pedomanku, setidaknya yang mereka bilang dirimu baik-baik saja. Ya, kamu terlihat senang dengan keputusanmu, sedangkan aku? Jauh dari baik. Kenapa kau biarkan aku seperti ini, seperti pengemis hati yang sudah lelah dengan keadaan, aku benar-benar merindukanmu. Merindu saat kita bersama, saat kita ceria, bahkan saat tak sepaham. Mungkin jika otakku bisa bicara, dia akan mengeluh karna terus-menerus memikirkanmu.




Saat ini aku benar-benar ingin memelukmu, walau sebentar aku butuh. Rasanya seperti dunia ini akan menelanku. Membawa ku ke tempat yang jauh dari mu, dari rasamu. Sampai kapan aku harus menyiksa batin, membiarkan penghianatanmu masuk kehati. Berulang ku tolak, tapi sulit. Memberontak. Tak berdaya. Aku bagaikan manusia tanpa hati. Sering kali rindu ini memedih, namun air mataku kering. Mungkin sudah habis ku buang saat kemarin, saat dirimu benar-benar ingin pergi. Dimana hati nuranimu? Dimana kamu yang dulu? Apakah hubungan yang sudah kita tempuh selama ini dikalahkan dengan pertemuan teman-temanmu tiga bulan kemarin? Aku seperti tak ada nyawa. Disaat ramaipun, aku merasa sendiri. Disaat sepi, aku merasa ditemani  luka olehmu. Apa benar ini cinta sejati? Melepaskannya untuk tak tau sampai kapan akan kembali. Merelakannya entah kapan dia akan meraih. Aku seperti buta. Mereka bilang, lupakan. Tapi tidak bisa. Aku mengenalmu sangat dalam. Yakinku keputusanmu bukan untuk dipertimbangkan. Rasanya tak mudah, seperti melewati pecahan kaca diatas kakiku.


Sulitkah bagimu untuk melihat kearahku? Aku tak yakin kita akan bertemu lagi. Firasat ini mengatakan seperti itu. Kebahagiaanmu juga kebahagiaanku. Apa harus seperti ini. Apa kamu bahagia dengan kondisiku yang jauh dari baik. Aku membutuhkanmu. Aku rindu semua tentang dirimu. Selalu ku berdoa kepada Tuhan, semoga engkau dijaga oleh-Nya. Aku tak bisa membencimu. Tak akan bisa. Meski kau sakiti aku dengan cara yang sadis sekalipun, luka ini menyatu dengan rasa sayangku padamu. Itulah yang membuat tabah dalam hati, akan menunggumu jika memang nama kita sudah ditakdirkan satu oleh-Nya.